"UNY_Jogja_Mama"
Jogja oh jogja. . .
"TAPI SEMUA ITU BUTUH BIAYA! UANG DARIMANA?". Kata Mama ketika aku mengatakan: "Maa, aku ingin kuliah !".
"Maaa, ini demi kebaikan masa depanku dan masa depan keluarga kita maa !". Rengekku lagi.
"KAMU TAU KAN? UANG TABUNGAN KITA ITU UDAH HABIS SEMUANYA UNTUK SEKOLAH
KAMU DI SMK, SEMENTARA KAMU MASIH INGIN KULIAH? MAU MAKAN APA KITA
NANTINYA?". Tak tau kenapa, perkataan mama terasa bagai petir menggelegar menyambar impianku; 'KULIAH DI JOGJA, AMBIL PSIKOLOGI/BK'.
Impian itu? Ya, impian itu terasa tiada harganya dimata mama. Atau
mungkin hanya aku yang terlalu panjang angan, tanpa melihat mengetahui
keadaan.
"HARUSNYA KAMU NGACA ! EMANGNYA CARI UANG ITU GAMPANG?
HAH ! SADAR ! EMANGNYA ORANG TUAMU INI KAYA RAYA? SEGALA YANG KAMU
INGINKAN TINGGAL MINTA?". Mama memang kadang kalau marah, ya udah, nggak
ada habis-habisnya.
"Tapi maaa, aku pingin kuliaaah. ". Rengekku tak mau kalah.
"Sayaaaang, maafkan mama sayang, jika mama bisa, tanpa kamu mintapun
mama akan berikan yang terbaik untukmu, tapi mau gimana lagi, keadaan
kita yang memang seperti ini. Tapi mama janji, mama akan berikan yang
terbaik untuk kamu dan adik kamu serta keluarga kita". Perkataan mama
yang seperti ini, malah jauh lebih terasa menyakitkan daripada ketika ia
marah. Aku sakit bukan karena mama tak bisa membiayai kuliahku, tapi
aku sakit karena aku tanpa sadar diri, telah membuat mama sedih hati,
kini kusadari, mama sebenarnya ingin dan akan selalu membuatku bahagia,
memenuhi segala yang kupinta, tapi apa hendak dikata, kenyataannya
Impianku harus sirna terhambat biaya.
"Kamu mau nglanjutin
dimana ilkhas?". Suara pak Rokhim menyadarkanku dari lamunan ketika
duduk diserambi masjid setelah shalat berjamaah, beliau adalah guru
Bimbingan Konseling yang menginspirasiku, dan dari sosok beliaulah aku
ingin menjadi guru BK, yang bisa mencitrakan tugas BK yang sebenarnya,
bukan guru BK yang kadang dipandang siswa sebagai polisi sekolahan yang
semena-mena, tukang 'jabel' sepatu, tukang 'cukur' rambut, penghukum
ketelatan, dan citra buruk lainnya.
Aku ingin merubah dan
menjalankan tugas BK seperti yang seharusnya, yaitu sebagai konselor,
sebagai tempat curhat siswa, memotivasi, memberi arahan saran dan
jawaban permasalahan, dan terutama memberikan tauladan baik lewat
perkataan maupun perbuatan.
"Ilkhas ! Kok malah ngelamun?". Kata beliau lagi, ketika melihatku masih belum menjawab pertanyaan pertamanya.
"Oh. . . Oh iya, gimana pak?". Jawabku agak kaget.
"Ilkhas mau nglanjutin kemana?". Tanya beliau menegaskan kembali.
"Emmm, masih bingung pak, pengennya sih di UNY pak, tapi. . ."
"Tapi kenapa?".
"Tapi keluarga nggak ada biaya pak, mungkin harus tunda satu tahun dulu pak".
"Kenapa nggak nyoba ikut SNMPTN aja khas?". Beliau menyarankan.
Oh iya, kan ada SNMPTN ! ini nih satu-satunya kesempatanku untuk bisa
kuliah di jogja. Akhirnya setelah tanya-tanya ke guru, aku bisa
direkomendasikan dan ikut SNMPTN jalur undangan.
Sampai tiba waktu pengumuman, aku pergi ke warnet dan. . . "SELAMAT ! ANDA BELUM LOLOS SELEKSI SNMPTN ". Ternyata aku gagal di kesempatanku ini, dan mungkin memang belum nasibku untuk kuliah dan hidup di Jogja.
UNY ! maafkan aku, walaupun tiap hari keindahanmu selalu aku pandangi
dilayar HP-ku, tapi aku belum bisa tinggal bersamamu. UNY ! Rindukan
aku, walaupun namamu selalu kusebut di tiap tahajudku, tapi aku belum
bisa meminangmu.
UNY ! Tunggulah aku, walaupun kini ku belum bisa
menjadi bagianmu, tapi Insyaallah, kelak di kemudian hari namaku akan
menggema dan terukir indah didalam sejarahmu.
"Khas kmu ada waktu gak? Bsok tmenin aku bisa?". Sms Eka padaku.
"Temenin kmana?". Balasku.
"Ke Jogja khas, nmenin aku daftar ulang + persiapan OSPEK". Eka
ternyata ngajak aku supaya menemaninya ke UNY. Tentu saja aku mau. Eka,
sahabat terbaikku ini, alhamdulillah lolos SNMPTN Tertulis dan diterima
di univ dan prodi impianku, apalagi kalau bukan UNY dan Bimbingan
Konseling. . Yah setidaknya, impianku tidak sirna begitu saja, karena ada penerusnya.
"EKA, AKU TITIPKAN IMPIANKU INI, JADIKAN YANG TERBAIK YA ! BERJUANGLAH !".
Sampai di Jogja dan ketika pertama kali aku menginjakkan diri memasuki
gerbang masuk 'UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA', rasa haru dan bahagia
dalam hatiku bercampur & meluap-luap, ingin rasanya aku berteriak
keras:
"MAMAAA ! AKU BISA MASUK UNY MAAA !".
Namun
percuma, toh aku disini cuman mampir saja. Hampir ku teteskan air mata
ketika aku shalat di mushala kampus, dan dalam khusyuk ku berdo'a:
"Ya Allah, engkau sebaik-baik pengabul do'a, engkau yang maha kuasa
atas segala perkara. Ya Allah, aku hanya bisa membuat rencana dan
keinginan, sedang engkaulah yang menentukan dan mengabulkan. Ya Allah,
sekiranya engkau mengijinkan, maka biarlah dibeberapa tahun yang akan
datang, aku bisa menjadi bagian dari universitas impianku ini, bolehkan
aku menimba ilmu pengetahuan wawasan dan pengalaman di Kota Pendidikan
ini. Tapi apapun yang terjadi, Ya Allah, aku percaya, bahwa engkau telah
merencanakan dan akan memberikan yang terbaik untuk ku ini, Terimakasih
ya Allah, atas semua yang kau beri. Amin ! ".
Kutuliskan do'a itu dalam selembar kertas, dan ku taruh di atap mushala
itu, dan suatu saat nanti, ketika ku kesana, dan telah beralmamater
biru keunguan khas UNY, akan kuambil kertas itu dan kujadikan prasasti
sejarah hidupku .
"Mama, aku punya impian, dan biar bagaimanapun aku tetap ingin kuliah
dan tinggal di Jogja. Do'akan aku ma, supaya bisa mewujudkannya! ".
(#UNYogyanistic)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar