"Pantaskah_Ku_ Cemburu?"
"Tapi maaf, aku nggak bisa untuk pacaran, lebih baik kita berteman". Jawabmu
"Aku nggak mau kita pacaran, tapi aku juga nggak mau kita hanya sekadar
teman (kecuali teman pendamping dunia akhiratmu). jadi hubungan kita
itu sebenarnya nggak ada namanya. . . tapi satu hal yang harus kamu
tahu, aku mencintaimu dan ingin agar kau menjadi wanita yang berada
bersamaku dipelaminan nanti, yang menemani hidup di dunia dan akhiratku, serta menjadi bidadariku di istana syurga kelak.
jadi mohon pahamilah kesungguhanku padamu ini". Aku tak bisa
berkata-kata lagi di depanmu, aku mematung dan pasrah atas apa yang akan
kau putuskan untuk menjawabku.
"Tapi kamu nggak bisa maksain
perasaan aku ke kamu !". Memang tak kutemukan sepercikpun cinta dalam
sorot matamu kala memandangku.
"Kalau begitu, maafkanlah aku,
yang telah terlalu bodoh memaksamu untuk memahami perasaanku". Aku
memang harus tegar dalam menerima semua ini, mungkin memang benar, cinta
itu tak harus memiliki, cinta itu kadang berjalan hanya satu pihak ,
sementara pihak yang lain hanya menerima.
Untuk apa cinta, jika hanya sebelah tangan,
Untuk apa rasa suka, jika tak pernah ada balasan. Aku memang harus
sadar diri, jika selama ini kau tak pernah cintai. Aku juga harus
mengerti, bahwa kenyataan ini tak seharusnya membuatku patah hati.
"Maafkanku, menurutku akan lebih baik jika kita berteman seperti sedia kala". Katamu mencoba berikan alasan.
"Ya, mungkin demikian yang terbaik buat kita ". Kusembunyikan sakit hatiku.
Sebulan berlalu, dan kini aku telah mendapatkan suatu hal yang dapat menguatkanku, yaitu:
"Satu-satunya cara agar kita memperoleh kasih sayang, ialah jangan
menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada
oranglain, tanpa mengharapkan balasan kembali".
Ya, setidaknya itu yang sedang kucoba tuk lakukan.
Kini, hari-hari kujalani sedikit berbeda dengan biasanya, sebelum
kejadian itu, di tiap pagi, sore, dan malam, ku selalu sempatkan diri
untuk sekadar menyapamu, baik lewat media SMS atau telfon, atau bahkan
sesekali berkunjung ke rumahmu. Dan sekarang, semua telah berubah,
mungkin aku yang memang membuatnya berubah, aku tak akan menghubungimu
jika kau tak menghubungiku terlebih dahulu. Pada awalnya memang berat,
kau tau kan aku sungguh mencintaimu? Tapi, itu yang harus aku lakukan
agar aku tak terlalu berpengharapan padamu.
Seiring waktu berjalan, benar kata pepatah:
"Bisa itu karena terbiasa!"
Dan inilah kata yang tepat untuk jargon 'Move On', awalnya sulit untuk
melupakan orang tercinta, tapi karena mau nggak mau kita harus
melupakannya (terpaksa), sedikit demi sedikit lama-kelamaan kita akan
terbiasa tak memikirkannya, damm akhirnya, kita pasti bisa melupakannya
(meski memang tidak akan pernah bisa melupakannya secara permanen
selamanya). Ini terjadi padaku, kini aku bisa menjalani hari-hari
seperti sedia kala (meski tanpa dirimu).
Namun malam itu.
"Assalamu'alaikum, besok ada waktu?". Telfon darimu.
"Wa'alaikumsalam, untuk apa?". Jawabku.
"Bisakah kamu pinjami aku buku kumpulan tentang puisi yang dulu itu?
Aku ada tugas, dan itu mau aku jadikan referensinya. Boleh ya? Please ! ".
"Emmm, iya boleh kok, besok aku anter kerumah".
"Jangan, kita ketemuan aja di taman biasa, Jam 4 ya ! Bisa?".
"Oh ya, insyaallah bisa".
"Ok, makasih ya ! Assalamu'alaikum".
"Sama-sama, wa'alaikumsalam".
Kau tiba-tiba datang kembali dalam ingatanku, teringat dulu tiap
pulang, kita selalu pergi ke taman terlebih dahulu, untuk mengarang
puisi bersama, diselingi canda tawa bahagia.
Malam itu juga,
segera ku cari berkas-berkas kertas yang berserakan diantara buku-buku
di dalam lemariku. Setelah terkumpul dan kususun rapi, lalu ku masukkan
dalam stopmap.
Di pagi hari, sudah aku persiapkan semuanya
untuk bertemu denganmu, mungkin telfonmu yang secara tiba-tiba itu
membuatku kembali merindukanmu, memang sudah lama semenjak kejadian itu,
kita belum pernah bertemu.
Mendung menggelora dikala senja,
padahal tadi siang masih cerah-cerah saja, hujan turun deras tak bisa
ditunda, geledak petir menggelegar hadirkan gema. Sementara jam
ditanganku sudah menunjukkan 15.45, waktu yang terlalu singkat untuk
sampai ditaman. Namun buat apa menunggu hujan reda, jika nantinya kau
kan menunggu lama, akhirnya segera ku pacu motorku bergegas menemuimu.
Sampai di taman, aku menelfomu.
"Kamu disebelah mana?". Tanyaku sambil tengok kanan kiri mencari keberadaanmu.
"Aku di paseban barat sebelah gedung perpustakaan." jawabmu.
"Oh ya aku kesitu". Ku terjang hujan karna memang aku tak bawa payung.
Sampai di paseban, dengan sedikit basah kuyup, aku segera mendatangimu,
tapi ternyata kau tak sendirian, disampingmu duduk seorang laki-laki
yang jelas aku tau itu bukanlah kakakmu. Kalian berdua tampaknya sangat
akrab, bahkan lebih dari keakraban kita dulu. Ku perhatikan kalian
disudut tempat itu, tampaknya kalian lebih dari hanya sekadar teman,
terbukti dari kedekatan dan kemesraan itu, aku memang sengaja tak
langsung menyapamu, untuk mengetahui apa yang kalian perbuat, sekitar 5
menit waktu kuperlukan, dan aku tak bisa menahan diriku, kala pria itu
mendekatkan wajahnya didepan wajah ayumu, dengan secepatnya kulangkah
diri dan segera kusapa dirimu, kejadian tadi sudah cukup untuk
mengetahui seberapa jauh hubungan kalian.
"Assalamu'alaikum
maaf mengganggu, ini bukunya !" ku serahkan sepaket map terbungkus
plastik hitam padamu, dan dengan senyum ku perhatikan kecanggunganmu,
tanpa hiraukan segera kumeninggalkanmu.
(#Pantaskah_Ku_untuk_cemburu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar