Jumat, 20 Juni 2014

CERITA PELATIHAN

"Kejamnya Senior"

Sekitar 4 harian yang lalu, program 'One Day One Story'-ku harus terhambat. Bukan ! Bukan karena aku tak punya cerita, bukan juga karena aku lagi berduka, tapi itu semua karena aku lagi ada acara. Mau tau acara apa? Berikut ceritanya:

Kamis siang setelah sebelumnya ujian lisan Fiqih, aku bersama teman-teman berkumpul di depan masjid kampus, untuk mengikuti 'screening' materi PKD (pelatihan kader dasar) sebuah organisasi pergerakan mahasiswa yang aku ikuti.

Singkat cerita, telah sampailah di tempat PKD, dan disitu rencana 4 hari 3 malam, acaranya ternyata kebanyakan adalah mendengarkan materi, kemudian diskusi tanya jawab. Aku yang memang sudah biasa dengan metode ini, sangatlah aktif dalam diskusi, apalagi jika diadakan debat pendapat, tentu aku sikat.

Dan ketika hari ke-3, saat ada penjelasan materi tentang 'Kritik Teori Pembangunan Bangsa' (wiiih materinya tinggi banget ya? ), pandanganku tertarik pada salah satu peserta putri, yang duduk tepat dibelakangku. Ia terlihat manis bagaikan strowberry yang dilumuri coklat dan dimakan diwaktu siang yang panas menyengat. Kurang lebih lima seperempat detik aku memandangnya, dan apa yang terjadi? Ternyata dia lalu memandangku juga, hingga tibalah saat dimana mataku dengan matanya bertemu, saling pandang dan dia tersenyum padaku. (Ciyeee, sweet bangeet ).

Senyumnya sungguh merontokkan semua kegalauan yang kurasa, ditambah sepasang gigi taring kecil panjang yang ia punya, menambah kecantikan dirona wajahnya. Ia mengangguk kecil padaku tanda menyapa, tak mau ku sia-siakan kesempatan yang ada, segera ku bertanya.

"Mbak, dari delegasi mana mbak?". Tanyaku, memang peserta PKD ini tidak hanya dari Wonosobo saja, ada dari Temanggung, Pekalongan, Cilacap, Banjarnegara dan Banyumas. Makanya kutanya seperti itu, karna dilihat dari wajahnya dia bukan dari Wonosobo.

"Saya dari UNSIQ mas, kalau masnya?". Jawabnya dengan lembut, suara santunnya terdengar merdu menambah ke anggunan di dirinya. Tak kusangka dia satu Universitas denganku.

"Oh, sama. Saya juga dari UNSIQ. Mbak asli wonosobo?". Tanyaku ingin meyakinkan apakah dugaanku kalau dia bukan wajah anak wonosoboan memang salah.

"Bukan mas, saya aslinya Kendal". Jawabnya masih dengan senyum manisnya. Tuh kan bener, dia bukan orang Wonosobo asli, udah keliatan kok. .

Akhirnya kami saling ngobrol tanya satu sama lain, dan ku ketahui dia ambil fakultas keguruan di kampus, kami juga tukar nomer HP (Ciyeee modus ).

Satu hari telah terjalani, kegiatan demi kegiatan telah terlampaui, kini malam tibalah saatnya pentas seni dari panitia putra putri. Ada pertunjukan Tari, Teather, Puisi, bahkan sampai Stand Up Comedy. Namun ternyata aku tak begitu memperhatikan dan menikmati pensi malam ini, karna aku tak tau dimanakah engkau kini .

Malam itu aku mencarinya, tapi sampai pentas seni telah selesaipun, tetap tak bisa ku berjumpa, padahal besok sudah hari terakhir, hatiku masih ingin lebih mengenal jauh tentang dirinya, tak tau mengapa juga aku merindukannya (Hei apakah ini cinta pada pandangan pertama? ah aku tak tau rasa apa ini?). Yang pasti ada perasaan ingin kembali berbincang dengannya.

Esok pagi, acara penutupan segera dimulai, aku menjadi peserta yang mewakili Rayon Wonosobo untuk memberikan kesan pesan di depan para peserta lain. Ketika didepan audiens ternyata memberikan keuntungan bagiku, aku jadi bisa melihat disebelah mana dia berada, dan ketika ku memandangnya, ternyata ia juga pandangiku dengan senyum manis miliknya. Ah senangnya. .

Sampai tiba selesai acara, semua peserta mendapat sertifikat, stiker dan foto-foto, serta tanda tangan di banner acara. Hingga selesai semua dan tiba waktunya sayonara, aku keliling ke peserta putri untuk mencarinya, dan ku lihat dia segera kuhampiri.

"Hai, langsung mau pulang?". Sapaku.

"Iya mas, mas juga langsung mau pulang?". Jawabnya.

"Iya, kamu sama siapa?"

"Belum tau ini mas, kalau masnya?"

"Aku sendiri, gimana kalau bareng aja?". Ajakku.

"Emang mas pulangnya searah sama saya?"

"Iya, gimana?"

"Boleh mas, bentar ya, aku ambil helm dan siap-siap dulu"

"Ok ". Yes, akhirnya aku bisa bareng dia.

Dengan segera dan bahagia kusiapkan motor '94 ku, setelah semua persiapan siap, dengan langkah semangat ceria dan tersenyum ia datang mendekatiku yang sedari tadi menungguinya.

"Sudah siap?" tanyaku.

"Sudah mas, ayo". Tentu masih dengan senyum manisnya.

Sampai di parkiran, aku starter motorku, dan dia siap untuk memboncengku. Tapi kemudian dari belakang ada kakak senior cowok yang memanggil kami.

"Hai, kalian mau kemana?"

"Mau pulang mas". Jawabku dan dia hampir bersamaan.

"Kamu pulang mana ilkhas? Dan kamu pulang mana dek?".

"Aku pulang sambek mas". Jawabku.

"Aku pulang kalibeber mas". Jawabnya.

"Khas, gini daripada kamu kejauhan, dia biar bareng aku aja, soalnya aku juga pulang ke kalibeber, biar kamu nggak bolak balik, lagian kasian motor kamu tuh, nanti kalau macet dijalan gimana?". Katanya padaku.

"Ya dex, kamu bareng mas aja, kasian ilkhasnya kalau bareng kamu". Katanya pada si dia.

"Sebenarnya nggak papa si mas, lagian deket kok". Jawabku

"Tapi mas, kasian masnya juga kalau harus nganterin aku, aku tak bareng panitia saja ya". Katanya padaku.

Ya ampun, tinggal berangkat juga, kenapa harus jadi kaya gini. Ya udah akhirnya, meskipun sebenarnya aku tau dia ingin denganku, tapi demi menghormati senior, kami nggak jadi pulang bareng. Aku pulang sendiri, dan dia bersama mas senior tadi.

Setibanya dirumah dia sms:
"Maaf ya mas "

#??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar