"Semangat_Nyamuk"
Dua mahluk kecil berterbangan dari arah genangan air kumuh, menuju sebuah tempat yang menjadi sasaran mereka.
"Sayang, kamu harus hati-hati, nanti hisaplah secara perlahan, jangan
tergesa-gesa, agar mereka tidak terbangun". Perintah sang suami pada
istrinya.
"Iya sayang, kamu juga hati-hati ya". Jawab sang istri.
Kedua mahluk kecil yang ternyata adalah sepasang nyamuk ini, dengan hati-hati masuk ke tempat tinggal manusia melalui fentilasi diatas jendela.
"Kita selidiki dulu, apakah disana dipasang asap penyesak nafas itu
atau nggak? Kamu tunggu disini sebentar ya !". Kata sang suami, hanya
dijawab anggukan kecil istrinya.
Segera ia melesat ke sebuah
kamar yang didalamnya dihiasi tirai-tirai lucu warna-warni, dan setelah
diamati, memang tak dipasang bom asap yang mengesalkan itu buat mereka,
ia berbalik arah dan kembali menemui istrinya.
"Disana aman, ayo segera kita lakukan sebelum pagi menjelang". Ajak sang suami yang langsung disetujui istrinya.
Sementara itu dikamar dalam sebuah rumah yang besar megah dan mewah,
sesosok tubuh mungil imut sedang beringsut kekanan dan kekiri, rupanya
ia tak dapat tidur nyenyak, entah kenapa.
Tiba di tempat si
target, sepasang nyamuk tadi langsung mendarat di tubuh mangsa mereka,
dengan lembut pelan tapi pasti, dimasukkannya mulut panjang penghisap
mereka, ke lubang sela pori-pori mangsanya. Hisap dan terus dihisapnya,
hingga perut mereka yang tadinya kosong, sekarang sudah penuh dengan
cairan merah lezat dari mangsanya. Setelah dianggap cukup terbanglah
mereka dengan senyum ceria diwajah, mereka kembali terbang menuju
genangan air kumuh tempat tinggal mereka, yang kehadiran mereka sudah
lama dinantikan anak-anaknya. Sesampainya disana, anak-anak berebut
menyambut untuk meminta jatah nafkah mereka.
"Mama, ini kok rasanya beda sama yang kemarin ya?". Salah satu anaknya protes.
"Beda gimana sayang?". Tanya sang ibu dengan lembut.
"Yang ini hambar, nggak ada rasanya, nggak kayak kemaren, kalau kemarin kan gurih enak". Jawab anaknya.
Beda rasanya? Ya, mungkin karena mangsanya kali ini masih terlalu kecil, dibandingkan kemarin yang memang sudah dewasa.
"Ya sudah, besok papa carikan yang gurih kayak kemarin deh ". Sang ayah menyahut.
"Janji ya pa?".
"Iya, papa janji sayang".
Malam berikutnya tiba, sepasang nyamuk tua itu sudah bersiap menjalankan kewajibannya mencari nafkah demi anak-anaknya.
"Sudah siap sayang?". Tanya sang suami.
"Sudah, ayo berangkat !".
"Ok fix !". (Haha nyamuknya juga Alay ternyata ).
Berangkatlah mereka ke tempat biasa mereka beraksi, tapi kali ini
sasaran mereka dikhususkan untuk mendapatkan cairan merah gurih yang
hanya ada pada manusia dewasa. Melesatlah mereka ke ruang keluarga
tempat dimana sekeluarga manusia berada.
Hinggaplah mereka
dikaki bawah si manusia, lalu mulai memasukkan mulut penghisapnya, dan
menyerap cairan merah itu, perlahan tapi pasti, mengembunglah Perut
mereka.
"Ayah, itu ada nyamuk di kaki ayah !". Kata si anak kepada ayahnya.
"Oh, nggak papa sayang, biarkan mereka mencari makan".
"Tapi pa, nanti sakit, gatel lho kayak aku kemarin, kan nggak enak". Kata si anak manja.
"Nggak papa, itu memang sudah jadi jalan hidup seekor nyamuk, anggap
saja darah yang mddreka hisap itu adalah darah kotor kita". Terang sang
ayah bijak.
Si anak yang belum mengerti, malah kemudian
mendekat ke arah kaki ayahnya. Dan dengan bertubi-tubi menepuk-nepuk
nyamuk yang menghinggapinya, dan salah satu nyamuk terkena dan jatuh ke
lantai.
"Sayaaang, ayo cepat kabuur". Teriak istri nyamuk pada suaminya yang tergeletak lemah berlumur darah.
"Tidak sayang, cepatlah kau kembali, rawat anak-anak kita, aku sudah tak kuat". Kata suami tersendak-sendak.
"Tidaaak sayang, ku mohon jangan tinggalkan kami, kamu kuat sayaaang".
"Maafkan aku. . .". Suami nyamuk menghembuskan nafas terakhirnya.
Sementara sang istri harus kembali ke rumah sendiri, dengan suasana hati
yang pedih perih, suasana haru menyelimuti ketika tiba dirumah, kini ia
harus mengurus anak-anaknya tanpa sang suami.
Beberapa hari berlalu, kini anak-anak nyamuk sudah beranjak dewasa, tapi ada satu hal yang aneh.
"Anak-anak, ayo kita berangkat nyari makan !". Ajak ibu.
"Ah enggak ah ma, takut, ntar di tepuk mati kaya papa". Jawab anaknya.
"Sayang, kita ini memang ditakdirkan untuk mencari nafkah dengan jalan
seperti itu, untuk makan saja kita harus beresiko mati, kita tidak boleh
takut, justru kita harus bangga dengan keberanian kita, berani mati
bagi kita adalah kebiasaan keikhlasan, bukan keterpaksaan, sesungguhnya
manusia itu harus mampu memahami dan mengambil pelajaran dari kita,
harusnya mereka nggak boleh malas-malasan dalam berusaha, padahal resiko
mereka mencari nafkah itu paling hanya capek dan lelah, tidak seperti
kita yang harus berhadapan dengan maut setiap kali mencari makan".
Petuah ibunya dengan bijak.
"Berarti kalau manusia itu
bermalasan kerja, mereka itu pecundang ya ma? Semangat mereka kalah
dengan semangat seekor nyamuk, padahal katanya mereka kan mahluk paling
sempurna ya ma?". Tegas anaknya.
"Semua makhluk itu tak ada
yang sempurna sayang, kalau manusia itu ciptaan paling sempurna, bukan
berarti manusia itu selalu benar, semua kembali ke masing-masing
individunya. Kita sebagai nyamuk, yang terpenting harus menjalani takdir
kita dengan sebaik-baiknya". Tukas ibu nyamuk.
Anak nyamuk tersadar, dan dengan semangat membara mereka berangkat mencari mangsa.
"#Nyamuk adalah mahluk mulia, karna disetiap kematiannya, selalu diiringi dengan tepuk tangan".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar