"Ibu_Aku Pintar kan?"
Sore yang cerah di musim hujan kali ini, biasanya udah sejak tadi
setelah dzuhur pasti langit bergumpal dengan awan hitam, tapi kali ini
lain, tiada awan yang berani menyelimuti si mentari, seakan memberikan
celah untuk matahari bernafas, dan memberikan kehangatan senja, sebelum
malam tiba.
"Assalamu'alaikum ! Ibu, aku pulang ". Sapaku membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam ! Alhamdulillah kamu pulang nak, ibu dah kangen banget sama kamu ". Jawab ibu, yang kemudian aku cium tangan, trus cipika cipiki.
"Bapak belum pulang bu?". Tanyaku, bapak memang bekerja sebagai buruh
bongkar muat di sebuah pabrik kayu di kecamatan, dan biasanya pulangnya
agak sore atau bahkan sering malam.
"Belum, paling bentar lagi pulang". Jawab ibu.
"Lha Tia dimana bu?". Tia (adikku).
"Nggak tau, tadi main sama temen-temen kemana". Segera saja ibu membuatkanku kopi, seperti biasa setiap aku pulang.
Aku kuliah dan tinggal di Asrama LAZIS Jateng, bersama 5 adik-adik
asramaku yang semuanya masih kelas XI SMA/K, aku biasa pulang ke rumah 2
minggu sekali, atau kadang sebulan sekali. Dan kali ini sudah sebulan
lebih, aku baru saja pulang.
Banyak kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di rumah setiap kali aku pulang, diantaranya:
- Ibu pasti membuatkanku kopi.
- Ibu memintaku untuk makan.
- Ibu pasti membelikan jajan untukku, entah berupa roti, kacang, ceriping, atau jajan lainnya.
- Remote TV sepenuhnya diserahkan padaku .
Dan salah satu yang lainnya ketika ku pulang adalah 'Datangnya sanak
saudaraku yang satu desa kerumah, entah Bude pakde, bulik paklik atau
yang lainnya untuk menemuiku'. Hingga sore ini, suasana di rumah
benar-benar rame, apalagi banyak sepupu dan ponakan yang masih
kecil-kecil membuat riuh dengan canda tawa.
Salah satu ponakanku yang paling kecil bernama Ghani, ia adalah (anaknya anaknya tante ku ), paham kagak? , maksudnya tuh gini, jadi tanteku itu punya anak, naah anaknya tanteku itu punya anak, namanya Ghani, gitu. Pahamkan? ,
jadi dapat di simpulkan, bahwa Ghani itu cucunya tanteku, dan dia
keponakanku. Ghani itu walaupun masih berumur 2 tahunan, tapi dia udah
keliatan cakep (ikut-ikutan kayak aku dulu , waktu masih kecil aku juga udah cakep lho ). Sedang asyik-asyiknya main, eee dia malah kepleset dan jatuh, dan tanpa perlu di komando, menangislah ia.
"Cupcupcup, Sini sayang, nggak papa, anak pintar nggak boleh nangis,
cupcupcup". Ibu dengan segera menggendongnya, namun Ghani masih nangis.
"Cupcupcup cah bagus, nggak papa ya, cupcupcup jangan nangis, kalau
nangis, nanti gantengnya ilang lho". Ibuku mencoba untuk menenangkannya.
WOW ! Ternyata hebat benar ibuku ini, walaupun tak pernah sekolah (SD pun enggak lulus
). Tapi ternyata ibu tau dan faham tentang psikologi dan kekuatan
kata-kata (The Power of Words). Dalam kasus ini, ibu selalu menggunakan
kata-kata positif seperti Nggak papa, Bagus, Anak Pintar untuk
menenangkan Ghani.
Ibu ternyata tau ini (walaupun mungkin tak faham teorinya) :
- secara psikologi, jika seorang anak jatuh, maka hal pertama yang
harus dilakukan orangtua adalah menolong dan menenangkannya (bukannya
malah memarahinya), karena anak kecil kadang ketika jatuh, yang
membuatnya menangis bukan karena sakit, tapi karna kaget.
- Ucapan
orangtua kepada anak, akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak.
Jika orangtua mengatakan pada anaknya; 'kamu bodoh, kamu nakal', atau
ucapan negatif lainnya, maka anak juga akan menjadi bodoh dan nakal.
Tapi jika Orangtua mengatakan: 'kamu Hebat, Kamu pintar', atau ucapan
positif lainnya, maka anak juga akan menjadi hebat dan pintar.
Aku jadi teringat dulu waktu aku masih kecil (usia kelas 2 SD), aku diberikan permen vitamin oleh ibu, dan ibu berkata:
"Nak, ini adalah permen yang akan membuat kamu menjadi pintar, jika
kamu makan permen ini setelah makan, maka mulai saat ini dan sampai
kapanpun kamu akan jadi anak yang cerdas, pandai dan pintar. Kamu akan
bisa menjadi rangking 1 dikelas, dan kamu akan jadi orang yang sukses ". Kata ibu dengan semangat.
Maka aku jadi sangat tertarik dan segera aku minta ibu untuk menyuapiku
makan, selesai makan, permen itu langsung aku lahap. Dan begitulah
dihari-hari selanjutnya. Sungguh ajaib, dipenerimaan raport tahun itu,
aku benar-benar mendapat rangking 1, dan sejak itu pula aku secara
beruntun menjadi juara kelas, bahkan hingga lulus sekolah. Semenjak itu
aku percaya, bahwa Aku Hebat, Aku Pintar, Aku Percayadiri Akan Sukses,
dan itu semua karena ibu.
Kini setelah aku tau, ternyata permen
yang dulu ibu berikan padaku hanyalah vitamin tambah nafsu makan, dan
ibu memberikannya padaku karna dulu aku agak cacingan .
Dan kini aku menyadari ternyata bukan karena 'permen vitamin' itu aku
jadi pintar, tapi aku jadi hebat karena perkataan ibu, sugesti dari ibu,
dan pengaruh positif penguatan diri dari ibu.
Sampai SMP
bahkan aku menjadi bintang sekolahan, setiap ada perlombaan akademik,
aku pasti jadi dutanya. Pengaruh kekuatan positif perkataan ibu padaku
semenjak kecil itu, kini berpadu dengan pengetahuan dan ilmuku yang
baru, yang mungkin secara teori ibu tak tau. .
Kalau dulu aku berkata: "Ibu, aku pintar kan?"
dan sekarang ku kan terus bertanya: "Ibu, aku tetap pintar kan?".
Ya, meskipun aku tau kau pasti kan menjawab: "Iya nak, Kamu Hebat, Kamu Pintar, Kamu Jadi Orang Sukses nak ! ".
"Ibu, sampai kapanpun itu, aku tetap butuh Penguatanmu ! ".
(#Ibuku_Pintar_kan ? ;-))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar