"Logika Hebatmu_Iqbal"
Berikut adalah cerita pertemuanku dengan Iqbal. Tapi bukan Iqbal anggota salah satu boyband kids yang terlalu cepat dewasa sebelum waktunya (gimana enggak coba? Harusnya Anak-anak seusia mereka itu fokus sama pendidikan bukan malah mikirin bidadari mulu, jatuh dari surga lagi, heh emangnya surga itu dilangit apa? Surga kan ada dibawah, tepatnya dibawah telapak kaki ibu. ).
Menurut gosip nih ya? (Ciyee, ketauan sering nonton Insert, Kiss, Silet dan sejenisnya ). Si Iqbal ternyata pernah nembak calon gebetanku Nabila_JKT48. Tapi ditolak mentah-mentah (ya iyalah, Nabila kan sudah punya aku, cowok yang super keren abis , mana mungkin dia cari yang lain. Ya nggak? ). Dan ternyata nih ya, si Iqbal_CJ itu. . . (Stop stop stop, katanya nggak mau mbahas iqbal yang itu? :@ gimana sih !)
Eits iya, ini cerita bukan ngebahas tentang Iqbal_CJ, tapi Iqbal anaknya tetangga yang rumahnya tepat didepan sedikit ke atas rumahku. Dia baru berumur sekitar 6 tahun lebih 7 jam 21 menit.an dan dia baru menduduki bangku kelas 1, tepatnya di mantan MI-ku tercinta; MI Ma'arif Talunombo. . Jujur ku akui bahwa Iqbal ini anaknya super pinter abis_kayak masa kecilku gitu (melihat tingkahnya aku jadi 'Dejavu' dengan masa laluku).
Ceritanya dimulai saat malam pengajian maulid nabi di desaku, aku bersama Eko dan Mat (keduanya sengaja aku datangkan dari Lumajang dan Satriyan untuk menghabiskan makanan-makanan yang berceceran dirumah_pizz n_@.V) berangkat ke masjid dan tidak langsung masuk masjid tapi berdiri ditengah jalan bertiga sambil eksis ceprat-cepret foto selfy. .
"Khas ! Ilkhas". Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara cewek memanggilku dari arah belakang (sebenarnya aku agak-agak takut untuk menoleh kebelakang_jangan-jangan kayah di film-film horor itu. Hiiii atuuut ). Tapi sebagai lelaki yang 'super keren abis' aku harus beranikan diri menoleh kebelakang, daaan . . .
Seorang bidadari cantik yang tak asing bagiku berdiri tepat dibelakangku,
"Hey, lho kok kamu ada disini? Sama siapa?." sontak tanyaku padanya (dia adalah AM, mantan cinta monyetku saat di MI dan menjadi teman sekolahku mulai dari MI-SMK). Dulu itu dia sama aku itu . . . (Eiits Nggak boleh cerita tentang dia, disini kan tokoh utama yang mau dibahas Iqbal? :@ . Gimana sih !).
"ini, aku sama adik-e dan ponakan! " jawabnya, dan aku tau nama adiknya itu Eva (seingetku sih) dan ponakannya bernama Iqbal (ini dia tokoh utama kita). Lalu aku perkenalkan padanya eko dan si mat.
Si iqbal dengan cepatnya meluncur kebawah ke arah orang-orang yang menjadi panitia maulid nabi, dengan sedikit negosiasi akhirnya iqbal kembali dengan membawa sekantong plastik.
"mbak, aku dapat ! ." katanya gembira sekali, ternyata yang dibawanya adalah oleh-oleh pengajian atau biasa disebut taqir/besek-an. (Waaah aku curiga nih, atau jangan-jangan si AM yang menyuruhnya? Ah tak mungkin. . . Tapi bisa jadi juga si (fikirku galau mengira-ira) )
"ih Iqbal pinter banget sih, ya udah karna udah dapet ayo pulang !" ajak AM kepada Iqbal dan adiknya. (Kecurigaanku kalau ternyata dia yang menyuruh Iqbal bertambah kuat)
"khas, kita kan dah lama nggak ketemu nih, ngobrol lebih lama lagi yuk? Tapi jangan disini, dirumah budhe ku aja yuk?" ajaknya padaku.
"emmm, sebenarnya aku juga kangen pengen ngobrol ma aku? Tapi. . .". Aku pura-pura jaim (tapi sebenarnya mau banget).
"Tapi apa khas? Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? tega kamu khas, setelah semuanya aku lakukan untukmu. Inikah balasanmu? Ya udah KITA . . ." (eits kok jadi dramatis gini sih teksnya, bukan! bukan yang ini. Ini mah teks untuk cerita saat putus pacaran. Bukan ! Bukan ini, ralat!)
"Tapi kenapa khas?" dia penasaran.
"Tapi boleh juga sih, ya udah ayo !" aku sangat bersemangat hingga tak sengaja aku menarik tangannya untuk cepat-cepat (nggak sengaja gimana maksudnya? )
"eits, ini kenapa tangan aku kamu tarik-tarik?". Katanya mengingatkanku.
"oh iya, maaf !, gara-gara terlalu bersemangat barusan. Eh eko, mat yuk ke rumah iqbal dulu, lagian pengajiannya belum mulai kan? Masih lama." aku ajak eko dan mat untuk menemaniku.
"Tapi, khas?" si mat sepertinya keberatan.
"Tapi apa mat? Jadi Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? tega kamu mat, setelah semuanya aku lakukan untukmu. Inikah balasanmu? Ya udah KITA . . .""
(Lho. Ini kan teks yang salah tadi? Kenapa ditulis lagi? Gimana sih? Yang serius dong ! :@ ).
"Tapi apa mat? Takut kelewatan nggak liat kyainya? Itu mah gampang nanti tinggal ngehubungin panitianya aja."
"Bukan masalah itu khas!" ia masih berat hati.
"Kalau gitu, kenapa?" tanyaku makin kepo.
"Tapi khas, kalau kita pergi, trus nanti nggak kebagian takir gimana?" jawabnya polos (si mat emang orangnya super jujur abis_meski kadang super malu-maluin abis. )
"Ya ampun! Udahlah nanti tak buatin takir spesial untuk kamu dirumah" kataku bohong (supaya dia mau ku ajak pergi).
"Tapi. . ."
"Tapi apa lagi?"
"Tapi beneran lho khas !"
"Ya ampun! Iya iya! Ya udah ayo!"
"Bentar khas !"
"Apa lagi Mat?" aku mulai marah.
"Aku ganteng nggak?" sambil nyengir keledai.
"Iya deh, you're the most handsome boy in the world." kataku super bohong abis (supaya mat seneng dan mau kuajak pergi).
"hehe, makasih. Tapi khas. . ."
"Tapi apa lagi???" sumpah aku super marah abis ma dia.
"Kata-katamu yang pakai bahasa inggris barusan artinya apa?. . ." nyengir setan.
"???!!!???" aku super pusing abis dan pingsan.
(#Part_2)
Sejak malam pengajian itu aku menjuluki si Iqbal dan si Mat dengan julukan yang super asyik abis, yaitu "Artis Be to the Sek_Besek". Ya mungkin julukan itu super tepat abis buat mereka, dengan ditinjau dari sisi penampilan, perkataan, dan perbuatan (waktu itu si mat sebenernya mau bawa sarung buat nge-gondol takir yang banyak, tapi tentu nggak aku bolehin lah, malu-maluin ). Mereka telah memenuhi ketiga kriteria tersebut.
Enggak kok ! Aku nggak jadi pingsan waktu dikerjain si Mat (kemarin kan cuman akting :-D), akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh sekitar 0,125 KM, Kami berenam (aku, eko, si mat, AM, Eva, dan Iqbal) sampai juga di rumah Wo Tun (panggilanku kepada seorang tetangga wanita yang tak lain adalah ibu.nya Iqbal). Kami bertiga (aku, eko, dan si Mat) dipersilahkan masuk dan duduk.
Lalu dengan semena-mena mereka semua (penghuni rumah masuk ke ruang dalam_sepertinya memang sudah mentradisi di pedesaan, dimana ketika ada seorang tamu datang, sipenghuni rumah menyilahkan duduk si tamu lalu meninggalkannya pergi ke belakang untuk sekedar membuatkan minuman, mengechek makanan, atau ngaca liat penampilannya udah OK belum dihadapan tamu. Haha itu sih aku banget. ).
Situasi kekosongan pengawasan dari tuan rumah ini, dimanfaatkan dengan sangat baik oleh si Mat. Dengan lahapnya dia memakan makanan-makanan yang sudah disediakan dalam toples di meja tamu. Ada criping, emping, kue garing, kue nggak garing, kepiting, kalajengking, kucing, kambing, cacing, anjing, bajing, kebo gering, sapi kebanting dan laing laing (yang 10 terakhir hanyalah fiktif belaka ).
"Mat, jangan malu-maluin kaya gitu dong ! Kan belum di persilahkan untuk makan !" eko memarahi si Mat sembari mengambil criping untuk dimasukkan kedalam mulutnya.
"Ya ampun, kalian ini ! Belum cukup kenyang apa? Tadi udah 2x makan sama ayam (ayamnya cuman nemenin) + 2 toples criping udah kalian habiskan dirumahku, masih saja disini seperti itu! Kalian nggak tau ya, disini itu udah dipasang CCTV tauk ! :@ ". Kataku sedikit marah dengan tingkah mereka yang super malu-maluin abis.
"eah khas, kamu nggak tau sih, ini criping beda sama yang ada dirumah kamu." kata si mat membela diri.
"Iya, khas. Cobain deh !" eko mendukung si Mat.
"enggak! Paling kalian mau nipu aku kan? Biar aku ikut makan? Enggaklah aku kan masih punya harga diri nggak kayak kalian." aku tak terpengaruh dengan mereka. Sementara mereka malah semakin antusias makan toplesnya (eits maksudnya makan criping yang ada di toples), dan itu membuatku menjadi semakin penasaran dengan rasa criping tersebut. . Tapi sebagai cowok yang super keren abis, aku harus tetap mempertahankan harga diriku. Tidak malu-maluin kayak mereka. .
Sementara itu, tuan rumah juga tak kunjung muncul menemui kami. (Aku curiga, mungkinkah mereka sedang membuatkankan minuman untuk kita bertiga? Atau jangan-jangan mereka sedang menikmati takir yang diperoleh Iqbal tadi saat di masjid? Wa.a.ah kemungkinan yang kedua sepertinya lebih kuat, mengingat kecurigaanku pada AM yang semakin kuat di Part_1 cerita ini.)
"Eah khas, itu samping kamu ada apa khas?" kata eko padaku.
"Apaan sih? (Aku nggak berani menoleh kesamping, jangan-jangan kayak di film horor itu lagi, yang kalau liat kesamping tiba-tiba ada mas pico-N.G. atau mbak Kun to the ty_Kunty. Hiii. Nggak! Nggak, aku nggak boleh noleh). Apaan sih ko ?" kataku sambil memejamkan mata takut menoleh kesamping.
"itu lho khas, samping kamu !"
"APAAA ???" Aku semakin takut.
"ya ampun, kamu kenapa si khas, lebay banget deh ! Itu samping kamu ada boneka, kayaknya lucu banget, tolong ambilin dong khas!" kata eko menenangkanku (oh ternyata boneka, mainannya iqbal)
"Bilang dong ko, dari tadi. Nakut-nakutin aja deh." kataku kesal.
"Yee, siapa yang nakut-nakutin? Kamunya aja yang super lebay abis (eah eah eah ini kan kata-kata favoritku- jangan pakai ini, ralat) ok, kamunya aja yang terlalu ekspresif ! (naah gitu, pokoknya kalau ada kata 'Super . . . . Abis' itu kata-kataku, yang lain nggak boleh pakai kata-kata itu ok! )" Jawab eko.
"Iya, iya deh, nih !". Kataku sambil melemparkan boneka beruang putih ke eko.
"Khas, aku juga dong, ambilin topeng macan itu, kayaknya Super bagus Abis deh." kata si Mat padaku.
"Mat ! Dengan segala kerendahan hati dan ke ilkhasan (eh ke ikhlasan maksudnya) aku ingatkan padamu sekali lagi _Jangan Pakai Kata SUPER . . . ABIS, itu khusus aku_ Ngerti nggak kamu !"
"iya deh khas, iya, maaf ! "
"Ya udah ini topengnya." ku berikan topeng macan ke si mat.
Sementara itu, sampai saat ini, tuan rumah belum juga keluar (mungkin mereka belum selesai makan takir tadi, atau mungkin juga mereka sedang nyusun rencana buat ngeracunin kami pakai semacam obat bubuk halus gitu, trus dicampur kedalam teh, trus nanti kami disuruh minum teh itu, trus tiba-tiba kami pusing dan pingsan, trus nanti kami diculik, trus nanti kami di. . . . . (STOP! BERHENTI NEGATIF THINKING ! Nggak boleh ! Kata pak ustad_pak ustad katanya ustadnya_ustadnya pak ustad kata ustadnya lagi begitu seterusnya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang pada intinya kita tidak boleh berfikir yang jelek-jelek (Su'udzon) dan kita Harus berfikir yang baik-baik saja (Khusnudzon). Jadi sekali lagi STOP NEGATIF THINKING, and START POSITIF THINKING ! )
Eko dan Mat sedang asyik main boneka dan topeng, kesempatan ini sangat bagus kumanfaatkan untuk mencicipi criping yang katanya super enak abis. Aku buka tutup toples perlahan dan tiba-tiba
Berikut adalah cerita pertemuanku dengan Iqbal. Tapi bukan Iqbal anggota salah satu boyband kids yang terlalu cepat dewasa sebelum waktunya (gimana enggak coba? Harusnya Anak-anak seusia mereka itu fokus sama pendidikan bukan malah mikirin bidadari mulu, jatuh dari surga lagi, heh emangnya surga itu dilangit apa? Surga kan ada dibawah, tepatnya dibawah telapak kaki ibu. ).
Menurut gosip nih ya? (Ciyee, ketauan sering nonton Insert, Kiss, Silet dan sejenisnya ). Si Iqbal ternyata pernah nembak calon gebetanku Nabila_JKT48. Tapi ditolak mentah-mentah (ya iyalah, Nabila kan sudah punya aku, cowok yang super keren abis , mana mungkin dia cari yang lain. Ya nggak? ). Dan ternyata nih ya, si Iqbal_CJ itu. . . (Stop stop stop, katanya nggak mau mbahas iqbal yang itu? :@ gimana sih !)
Eits iya, ini cerita bukan ngebahas tentang Iqbal_CJ, tapi Iqbal anaknya tetangga yang rumahnya tepat didepan sedikit ke atas rumahku. Dia baru berumur sekitar 6 tahun lebih 7 jam 21 menit.an dan dia baru menduduki bangku kelas 1, tepatnya di mantan MI-ku tercinta; MI Ma'arif Talunombo. . Jujur ku akui bahwa Iqbal ini anaknya super pinter abis_kayak masa kecilku gitu (melihat tingkahnya aku jadi 'Dejavu' dengan masa laluku).
Ceritanya dimulai saat malam pengajian maulid nabi di desaku, aku bersama Eko dan Mat (keduanya sengaja aku datangkan dari Lumajang dan Satriyan untuk menghabiskan makanan-makanan yang berceceran dirumah_pizz n_@.V) berangkat ke masjid dan tidak langsung masuk masjid tapi berdiri ditengah jalan bertiga sambil eksis ceprat-cepret foto selfy. .
"Khas ! Ilkhas". Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara cewek memanggilku dari arah belakang (sebenarnya aku agak-agak takut untuk menoleh kebelakang_jangan-jangan kayah di film-film horor itu. Hiiii atuuut ). Tapi sebagai lelaki yang 'super keren abis' aku harus beranikan diri menoleh kebelakang, daaan . . .
Seorang bidadari cantik yang tak asing bagiku berdiri tepat dibelakangku,
"Hey, lho kok kamu ada disini? Sama siapa?." sontak tanyaku padanya (dia adalah AM, mantan cinta monyetku saat di MI dan menjadi teman sekolahku mulai dari MI-SMK). Dulu itu dia sama aku itu . . . (Eiits Nggak boleh cerita tentang dia, disini kan tokoh utama yang mau dibahas Iqbal? :@ . Gimana sih !).
"ini, aku sama adik-e dan ponakan! " jawabnya, dan aku tau nama adiknya itu Eva (seingetku sih) dan ponakannya bernama Iqbal (ini dia tokoh utama kita). Lalu aku perkenalkan padanya eko dan si mat.
Si iqbal dengan cepatnya meluncur kebawah ke arah orang-orang yang menjadi panitia maulid nabi, dengan sedikit negosiasi akhirnya iqbal kembali dengan membawa sekantong plastik.
"mbak, aku dapat ! ." katanya gembira sekali, ternyata yang dibawanya adalah oleh-oleh pengajian atau biasa disebut taqir/besek-an. (Waaah aku curiga nih, atau jangan-jangan si AM yang menyuruhnya? Ah tak mungkin. . . Tapi bisa jadi juga si (fikirku galau mengira-ira) )
"ih Iqbal pinter banget sih, ya udah karna udah dapet ayo pulang !" ajak AM kepada Iqbal dan adiknya. (Kecurigaanku kalau ternyata dia yang menyuruh Iqbal bertambah kuat)
"khas, kita kan dah lama nggak ketemu nih, ngobrol lebih lama lagi yuk? Tapi jangan disini, dirumah budhe ku aja yuk?" ajaknya padaku.
"emmm, sebenarnya aku juga kangen pengen ngobrol ma aku? Tapi. . .". Aku pura-pura jaim (tapi sebenarnya mau banget).
"Tapi apa khas? Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? tega kamu khas, setelah semuanya aku lakukan untukmu. Inikah balasanmu? Ya udah KITA . . ." (eits kok jadi dramatis gini sih teksnya, bukan! bukan yang ini. Ini mah teks untuk cerita saat putus pacaran. Bukan ! Bukan ini, ralat!)
"Tapi kenapa khas?" dia penasaran.
"Tapi boleh juga sih, ya udah ayo !" aku sangat bersemangat hingga tak sengaja aku menarik tangannya untuk cepat-cepat (nggak sengaja gimana maksudnya? )
"eits, ini kenapa tangan aku kamu tarik-tarik?". Katanya mengingatkanku.
"oh iya, maaf !, gara-gara terlalu bersemangat barusan. Eh eko, mat yuk ke rumah iqbal dulu, lagian pengajiannya belum mulai kan? Masih lama." aku ajak eko dan mat untuk menemaniku.
"Tapi, khas?" si mat sepertinya keberatan.
"Tapi apa mat? Jadi Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? tega kamu mat, setelah semuanya aku lakukan untukmu. Inikah balasanmu? Ya udah KITA . . .""
(Lho. Ini kan teks yang salah tadi? Kenapa ditulis lagi? Gimana sih? Yang serius dong ! :@ ).
"Tapi apa mat? Takut kelewatan nggak liat kyainya? Itu mah gampang nanti tinggal ngehubungin panitianya aja."
"Bukan masalah itu khas!" ia masih berat hati.
"Kalau gitu, kenapa?" tanyaku makin kepo.
"Tapi khas, kalau kita pergi, trus nanti nggak kebagian takir gimana?" jawabnya polos (si mat emang orangnya super jujur abis_meski kadang super malu-maluin abis. )
"Ya ampun! Udahlah nanti tak buatin takir spesial untuk kamu dirumah" kataku bohong (supaya dia mau ku ajak pergi).
"Tapi. . ."
"Tapi apa lagi?"
"Tapi beneran lho khas !"
"Ya ampun! Iya iya! Ya udah ayo!"
"Bentar khas !"
"Apa lagi Mat?" aku mulai marah.
"Aku ganteng nggak?" sambil nyengir keledai.
"Iya deh, you're the most handsome boy in the world." kataku super bohong abis (supaya mat seneng dan mau kuajak pergi).
"hehe, makasih. Tapi khas. . ."
"Tapi apa lagi???" sumpah aku super marah abis ma dia.
"Kata-katamu yang pakai bahasa inggris barusan artinya apa?. . ." nyengir setan.
"???!!!???" aku super pusing abis dan pingsan.
(#Part_2)
Sejak malam pengajian itu aku menjuluki si Iqbal dan si Mat dengan julukan yang super asyik abis, yaitu "Artis Be to the Sek_Besek". Ya mungkin julukan itu super tepat abis buat mereka, dengan ditinjau dari sisi penampilan, perkataan, dan perbuatan (waktu itu si mat sebenernya mau bawa sarung buat nge-gondol takir yang banyak, tapi tentu nggak aku bolehin lah, malu-maluin ). Mereka telah memenuhi ketiga kriteria tersebut.
Enggak kok ! Aku nggak jadi pingsan waktu dikerjain si Mat (kemarin kan cuman akting :-D), akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh sekitar 0,125 KM, Kami berenam (aku, eko, si mat, AM, Eva, dan Iqbal) sampai juga di rumah Wo Tun (panggilanku kepada seorang tetangga wanita yang tak lain adalah ibu.nya Iqbal). Kami bertiga (aku, eko, dan si Mat) dipersilahkan masuk dan duduk.
Lalu dengan semena-mena mereka semua (penghuni rumah masuk ke ruang dalam_sepertinya memang sudah mentradisi di pedesaan, dimana ketika ada seorang tamu datang, sipenghuni rumah menyilahkan duduk si tamu lalu meninggalkannya pergi ke belakang untuk sekedar membuatkan minuman, mengechek makanan, atau ngaca liat penampilannya udah OK belum dihadapan tamu. Haha itu sih aku banget. ).
Situasi kekosongan pengawasan dari tuan rumah ini, dimanfaatkan dengan sangat baik oleh si Mat. Dengan lahapnya dia memakan makanan-makanan yang sudah disediakan dalam toples di meja tamu. Ada criping, emping, kue garing, kue nggak garing, kepiting, kalajengking, kucing, kambing, cacing, anjing, bajing, kebo gering, sapi kebanting dan laing laing (yang 10 terakhir hanyalah fiktif belaka ).
"Mat, jangan malu-maluin kaya gitu dong ! Kan belum di persilahkan untuk makan !" eko memarahi si Mat sembari mengambil criping untuk dimasukkan kedalam mulutnya.
"Ya ampun, kalian ini ! Belum cukup kenyang apa? Tadi udah 2x makan sama ayam (ayamnya cuman nemenin) + 2 toples criping udah kalian habiskan dirumahku, masih saja disini seperti itu! Kalian nggak tau ya, disini itu udah dipasang CCTV tauk ! :@ ". Kataku sedikit marah dengan tingkah mereka yang super malu-maluin abis.
"eah khas, kamu nggak tau sih, ini criping beda sama yang ada dirumah kamu." kata si mat membela diri.
"Iya, khas. Cobain deh !" eko mendukung si Mat.
"enggak! Paling kalian mau nipu aku kan? Biar aku ikut makan? Enggaklah aku kan masih punya harga diri nggak kayak kalian." aku tak terpengaruh dengan mereka. Sementara mereka malah semakin antusias makan toplesnya (eits maksudnya makan criping yang ada di toples), dan itu membuatku menjadi semakin penasaran dengan rasa criping tersebut. . Tapi sebagai cowok yang super keren abis, aku harus tetap mempertahankan harga diriku. Tidak malu-maluin kayak mereka. .
Sementara itu, tuan rumah juga tak kunjung muncul menemui kami. (Aku curiga, mungkinkah mereka sedang membuatkankan minuman untuk kita bertiga? Atau jangan-jangan mereka sedang menikmati takir yang diperoleh Iqbal tadi saat di masjid? Wa.a.ah kemungkinan yang kedua sepertinya lebih kuat, mengingat kecurigaanku pada AM yang semakin kuat di Part_1 cerita ini.)
"Eah khas, itu samping kamu ada apa khas?" kata eko padaku.
"Apaan sih? (Aku nggak berani menoleh kesamping, jangan-jangan kayak di film horor itu lagi, yang kalau liat kesamping tiba-tiba ada mas pico-N.G. atau mbak Kun to the ty_Kunty. Hiii. Nggak! Nggak, aku nggak boleh noleh). Apaan sih ko ?" kataku sambil memejamkan mata takut menoleh kesamping.
"itu lho khas, samping kamu !"
"APAAA ???" Aku semakin takut.
"ya ampun, kamu kenapa si khas, lebay banget deh ! Itu samping kamu ada boneka, kayaknya lucu banget, tolong ambilin dong khas!" kata eko menenangkanku (oh ternyata boneka, mainannya iqbal)
"Bilang dong ko, dari tadi. Nakut-nakutin aja deh." kataku kesal.
"Yee, siapa yang nakut-nakutin? Kamunya aja yang super lebay abis (eah eah eah ini kan kata-kata favoritku- jangan pakai ini, ralat) ok, kamunya aja yang terlalu ekspresif ! (naah gitu, pokoknya kalau ada kata 'Super . . . . Abis' itu kata-kataku, yang lain nggak boleh pakai kata-kata itu ok! )" Jawab eko.
"Iya, iya deh, nih !". Kataku sambil melemparkan boneka beruang putih ke eko.
"Khas, aku juga dong, ambilin topeng macan itu, kayaknya Super bagus Abis deh." kata si Mat padaku.
"Mat ! Dengan segala kerendahan hati dan ke ilkhasan (eh ke ikhlasan maksudnya) aku ingatkan padamu sekali lagi _Jangan Pakai Kata SUPER . . . ABIS, itu khusus aku_ Ngerti nggak kamu !"
"iya deh khas, iya, maaf ! "
"Ya udah ini topengnya." ku berikan topeng macan ke si mat.
Sementara itu, sampai saat ini, tuan rumah belum juga keluar (mungkin mereka belum selesai makan takir tadi, atau mungkin juga mereka sedang nyusun rencana buat ngeracunin kami pakai semacam obat bubuk halus gitu, trus dicampur kedalam teh, trus nanti kami disuruh minum teh itu, trus tiba-tiba kami pusing dan pingsan, trus nanti kami diculik, trus nanti kami di. . . . . (STOP! BERHENTI NEGATIF THINKING ! Nggak boleh ! Kata pak ustad_pak ustad katanya ustadnya_ustadnya pak ustad kata ustadnya lagi begitu seterusnya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang pada intinya kita tidak boleh berfikir yang jelek-jelek (Su'udzon) dan kita Harus berfikir yang baik-baik saja (Khusnudzon). Jadi sekali lagi STOP NEGATIF THINKING, and START POSITIF THINKING ! )
Eko dan Mat sedang asyik main boneka dan topeng, kesempatan ini sangat bagus kumanfaatkan untuk mencicipi criping yang katanya super enak abis. Aku buka tutup toples perlahan dan tiba-tiba
(#Part_3)
Eko dan Mat sedang asyik main boneka dan topeng, kesempatan ini sangat bagus kumanfaatkan untuk mencicipi criping yang katanya super enak abis. Aku buka tutup toples secara perlahan dan tiba-tiba . . . Dari arah ruangan dalam muncul bayangan hitam seorang wanita dengan rambut panjang dibalik kelambu putih didepanku (jangan jangan . . . Oh tidak ! Mungkinkah itu hantu yang selama ini membayangi disetiap fikiranku? :-S ).
Bukan bukan, ternyata itu bukan hantu. Tapi itu Wo Tun (ibu-nya Iqbal), Wo Tun datang membawa minuman untuk kami bertiga (warna minumannya agak merah kecoklatan dan kekuningan, mungkin itu perpaduan antara air mineral biasa dengan bubuk dedaunan kering yang sudah diolah dan dicampur dengan gula pasir_minuman apakah itu??? Ada yang tau? . . . Yap benar sekali, Teh to the Ma and the nis_Teh Manis, ih pinter pinter ya ! :-D).
Naah ceritanya tak Pause dulu sebentar , aku ingin menceritakan tentang Filosofi "GULA". Kalian tau gula kan? Nanti lha udah tak ceritain panjang lebar tentang gula, eee malah nggak tau gula itu apa? . Mungkin kebanyakan dari kita tau salah satu manfaat gula yaitu memberikan rasa manis (entah itu pada permen, makanan, minuman dll). Tapi taukah kita, bahwasannya Gula adalah Pahlawan yang paling super rela berkorban abis? Ia memberikan manfaat penting, tapi rela tidak disebut (bahkan malah yang lain yang banggakan). Ok kita ambil contoh: Teh manis_Teh manis yaitu minuman yang terdiri dari air, teh dan gula. Yang memberikan rasa manis pada minuman tersebut apa? Gula kan? Tapi apakah gula disebut? Ternyata tidak? Yang disebut malah teh. Jadinya Teh Manis, bukan Teh gula manis. . Itu juga terjadi pada yang lainnya seperti Kopi Manis dll. Gula selalu rela memberikan rasa manis tanpa harus disebutkan namanya. Oleh karena itu, Mari belajar dari GULA "_kita memberikan manfaat baik, kontribusi baik, amal baik, tanpa harus disebutkan nama kita_" . (Ciyeee kok jadi bijak gini sih haha B-)).
OK, let's play again this story. .
Sampai mana tadi? Oh ya. . . Secara otomatis aku tertangkap basah tangan kiri sedang memegang tutup toples dan tangan kanan berada dalam toples mengambil criping, serta mata yang sedikit melotot (karena kaget) ditambah mulut melongo ! (Suasana saat itu bagiku bagaikan di iklan permen yang waktu mbenerin gaya rambut ngaca di mobil yang lagi berhenti, tapi kemudian kaca mobilnya terbuka karena ada orang didalamnya, atau kayak yang mau bercanda dengan menutup mata orang dari belakang yang dikira temennya trus bilang 'Sapa Hayow?' tapi ternyata malah salah orang. Walaupun aku lupa itu iklan apa? Tapi Pokoknya intinya itu Super TenGSin Abis) :$. Keadaan seperti itu bagiku bagaikan lagi puasa trus pas tinggal 8 detik lagi udah waktunya buka eeah malah makan buah simalakama. .
(Mau ambil criping? Jelas harga diriku yang mati. Mau enggak ambil? Udah ketangkep basah tangan di toples + penasaran rasa cripingnya. ). Tiba saatnya aku harus memilih, dan akhirnya aku tetap memilih setia. . (Maksudku memilih untuk tidak mengambil criping) secepat kilat toples kututupkan kembali.
"Lho kok nggak jadi ngambil? Kenapa? Malu ya?" tanya wo tun padaku.
"Oh enggak kok tante, emm anu, emm (aduh-aduh gimana ini :$ ). . .ini tante, tadi didalam toples kayak ada lalat yang terjebak gitu, trus aku nggak tega, trus tak bukain tutup toplesnya biar si lalat selamat, kan kasihan kalau nggak bisa nafas gara-gara kehabisan oksigen, tante ." jawabku bohong.
"Ooh, waah nak ilkhas baik banget memang ya ! . Saya salut dengan nak ilkhas, sudah ganteng, pinter, ramah, baik lagi. Peduli kasih terhadap sesama ciptaan Tuhan. ." Wo tun memujiku
"Hehe, makasih tante, tadi cuman kebetulan saja kok. " jawabku sok sok merendah hati gitu.
"Pasti senang sekali punya mantu kayak nak ilkhas ini. ." wo tun semakin memujiku, membuat sayap-sayap yang ada dipundakku tumbuh dan serasa ingin terbang (tapi untung aja sadar kalau aku lagi nggak ada uang lebih untuk mengganti perbaikan atap rumah. Secara pelahan sayapku masuk lagi)
"Ah tante bisa aja, hehe ". Jawabku pura-pura 'calm down' (padahal dalam hati berkata 'andai saja kau tau yang sebenarnya terjadi' )
"Oh ya, silahkan diminum tehnya mumpung masih anget ! Tante ke dalam dulu." wo tun mempersilahkan kami.
"Oh ya, makasih tante." jawab kami bertiga hampir bersamaan.
Segera si mat menyerutup teh yang katanya anget itu. Dan . . .
"Waah khas, ko, tadi tante bilang ini sudah anget kan? Tapi kok. . ." si mat bertanya
"Iya." jawabku dan eko bersamaan.
"Emang nya kenapa?" tanyaku penasaran.
"Tapi kok nggak panas banget, juga nggak dingin ya?". Si mat tanya lagi.
"Ya itu namanya anget, mat !" eko dan aku mencakar-cakar si mat (kebiasan kalau gemes khusus pada si mat :@ ).
Dari arah dalam muncul sesosok kecil, berkepala plontos, mempunyai suara tawa yang membuat merinding para pendengarnya, dan berjalan mendekat ke arah kami bertiga.
(Siapakah sebenarnya sosok kecil itu? Apakah hantu kecil yang biasa ber-partner dengan para koruptor untuk mencuri Harta Negara? Atau siapa? Nantikan segera di story #Part_4 )
Eko dan Mat sedang asyik main boneka dan topeng, kesempatan ini sangat bagus kumanfaatkan untuk mencicipi criping yang katanya super enak abis. Aku buka tutup toples secara perlahan dan tiba-tiba . . . Dari arah ruangan dalam muncul bayangan hitam seorang wanita dengan rambut panjang dibalik kelambu putih didepanku (jangan jangan . . . Oh tidak ! Mungkinkah itu hantu yang selama ini membayangi disetiap fikiranku? :-S ).
Bukan bukan, ternyata itu bukan hantu. Tapi itu Wo Tun (ibu-nya Iqbal), Wo Tun datang membawa minuman untuk kami bertiga (warna minumannya agak merah kecoklatan dan kekuningan, mungkin itu perpaduan antara air mineral biasa dengan bubuk dedaunan kering yang sudah diolah dan dicampur dengan gula pasir_minuman apakah itu??? Ada yang tau? . . . Yap benar sekali, Teh to the Ma and the nis_Teh Manis, ih pinter pinter ya ! :-D).
Naah ceritanya tak Pause dulu sebentar , aku ingin menceritakan tentang Filosofi "GULA". Kalian tau gula kan? Nanti lha udah tak ceritain panjang lebar tentang gula, eee malah nggak tau gula itu apa? . Mungkin kebanyakan dari kita tau salah satu manfaat gula yaitu memberikan rasa manis (entah itu pada permen, makanan, minuman dll). Tapi taukah kita, bahwasannya Gula adalah Pahlawan yang paling super rela berkorban abis? Ia memberikan manfaat penting, tapi rela tidak disebut (bahkan malah yang lain yang banggakan). Ok kita ambil contoh: Teh manis_Teh manis yaitu minuman yang terdiri dari air, teh dan gula. Yang memberikan rasa manis pada minuman tersebut apa? Gula kan? Tapi apakah gula disebut? Ternyata tidak? Yang disebut malah teh. Jadinya Teh Manis, bukan Teh gula manis. . Itu juga terjadi pada yang lainnya seperti Kopi Manis dll. Gula selalu rela memberikan rasa manis tanpa harus disebutkan namanya. Oleh karena itu, Mari belajar dari GULA "_kita memberikan manfaat baik, kontribusi baik, amal baik, tanpa harus disebutkan nama kita_" . (Ciyeee kok jadi bijak gini sih haha B-)).
OK, let's play again this story. .
Sampai mana tadi? Oh ya. . . Secara otomatis aku tertangkap basah tangan kiri sedang memegang tutup toples dan tangan kanan berada dalam toples mengambil criping, serta mata yang sedikit melotot (karena kaget) ditambah mulut melongo ! (Suasana saat itu bagiku bagaikan di iklan permen yang waktu mbenerin gaya rambut ngaca di mobil yang lagi berhenti, tapi kemudian kaca mobilnya terbuka karena ada orang didalamnya, atau kayak yang mau bercanda dengan menutup mata orang dari belakang yang dikira temennya trus bilang 'Sapa Hayow?' tapi ternyata malah salah orang. Walaupun aku lupa itu iklan apa? Tapi Pokoknya intinya itu Super TenGSin Abis) :$. Keadaan seperti itu bagiku bagaikan lagi puasa trus pas tinggal 8 detik lagi udah waktunya buka eeah malah makan buah simalakama. .
(Mau ambil criping? Jelas harga diriku yang mati. Mau enggak ambil? Udah ketangkep basah tangan di toples + penasaran rasa cripingnya. ). Tiba saatnya aku harus memilih, dan akhirnya aku tetap memilih setia. . (Maksudku memilih untuk tidak mengambil criping) secepat kilat toples kututupkan kembali.
"Lho kok nggak jadi ngambil? Kenapa? Malu ya?" tanya wo tun padaku.
"Oh enggak kok tante, emm anu, emm (aduh-aduh gimana ini :$ ). . .ini tante, tadi didalam toples kayak ada lalat yang terjebak gitu, trus aku nggak tega, trus tak bukain tutup toplesnya biar si lalat selamat, kan kasihan kalau nggak bisa nafas gara-gara kehabisan oksigen, tante ." jawabku bohong.
"Ooh, waah nak ilkhas baik banget memang ya ! . Saya salut dengan nak ilkhas, sudah ganteng, pinter, ramah, baik lagi. Peduli kasih terhadap sesama ciptaan Tuhan. ." Wo tun memujiku
"Hehe, makasih tante, tadi cuman kebetulan saja kok. " jawabku sok sok merendah hati gitu.
"Pasti senang sekali punya mantu kayak nak ilkhas ini. ." wo tun semakin memujiku, membuat sayap-sayap yang ada dipundakku tumbuh dan serasa ingin terbang (tapi untung aja sadar kalau aku lagi nggak ada uang lebih untuk mengganti perbaikan atap rumah. Secara pelahan sayapku masuk lagi)
"Ah tante bisa aja, hehe ". Jawabku pura-pura 'calm down' (padahal dalam hati berkata 'andai saja kau tau yang sebenarnya terjadi' )
"Oh ya, silahkan diminum tehnya mumpung masih anget ! Tante ke dalam dulu." wo tun mempersilahkan kami.
"Oh ya, makasih tante." jawab kami bertiga hampir bersamaan.
Segera si mat menyerutup teh yang katanya anget itu. Dan . . .
"Waah khas, ko, tadi tante bilang ini sudah anget kan? Tapi kok. . ." si mat bertanya
"Iya." jawabku dan eko bersamaan.
"Emang nya kenapa?" tanyaku penasaran.
"Tapi kok nggak panas banget, juga nggak dingin ya?". Si mat tanya lagi.
"Ya itu namanya anget, mat !" eko dan aku mencakar-cakar si mat (kebiasan kalau gemes khusus pada si mat :@ ).
Dari arah dalam muncul sesosok kecil, berkepala plontos, mempunyai suara tawa yang membuat merinding para pendengarnya, dan berjalan mendekat ke arah kami bertiga.
(Siapakah sebenarnya sosok kecil itu? Apakah hantu kecil yang biasa ber-partner dengan para koruptor untuk mencuri Harta Negara? Atau siapa? Nantikan segera di story #Part_4 )
(#Last_Part)
Dari arah dalam muncul sesosok kecil, berkepala plontos, mempunyai suara tawa yang membuat merinding para pendengarnya, dan berjalan mendekat ke arah kami bertiga. Ia membawa sebuah boneka besar yang setara dengan badannya. Dialah Iqbal (Muhammad Iqbal Subeno_bukan nama sebenarnya) adik kecil ponakannya si AM (mantan cinta monyetku waktu SD). Sambil terus tertawa, ia membawa boneka itu ke arahku.
"Hwaaaa, grrhwaaa !" ia bersembunyi dibalik boneka dan memajukan boneka ke arahku, ia bermaksud menakut-nakutiku.
"Hahaha, mas nggak takut, we.e.ek ." jelaslah aku nggak takut, orang yang buat nakut-nakutin aja boneka 'Beary' yang sedang memegang hati bertuliskan 'I LOVE YOU'. Siapa yang takut kalau kaya gini coba?
"Yaah, kok nggak takut sih mas?" tanya Iqbal kesal.
"Ooh Iqbal pengen mas ilkhas takut?" aku balik tanya.
Iqbal hanya tersenyum dan mengangguk. Itu tandanya aku disuruh takut. Dan aku siap (Agar terlihat baik di mata sang Mantan, kita harus pula bersikap baik pada keluarga mantan, termasuk keponakannya )
"Ya udah kalau gitu, replay ulang deh bal !" perintahku pada iqbal, dan langsung saja ia mulai menakut-nakutiku.
"Hwaaaa, grrhwaaa ! Aku Setan. ! Hwaaaa, grrhwaaa !" ia memaju mundurkan bonekanya ke mukaku.
"AAAAAAAAAA. . .aku Takuuuuut, setaaaan !" aku menjerit ketakutan. Dan tanpa kusangka jeritanku membuat panik seluruh warga terutama penghuni rumah, (sebenarnya para warga sudah mau keluar menuju sumber suaraku, tapi nggak jadi, takut ketipu kena tipu kayak disalah satu iklan camilan itu. Akhirnya mereka mengurungkan niat mereka) para penghuni rumah segera keluar keruang tamu menemuiku.
"Ada apa khas?" tanya AM penasaran. Sementara kulirik iqbal, ia tertawa cekikikan.
"Oh, nggak papa kok An, ini tadi akting buat drama sama iqbal" jawabku
"Oh, kirain ada apa?" kata Wo Tun masih sedikit panik.
"Nggak ada papa kok tante, hehe. Maaf ya, jadi ngagetin." kataku
"Oh, syukurlah kalau nggak papa." Wo Tun kembali ke ruang dalam. Sementara AM jadi menemani kami bertiga diruang tamu.
Aku, Mat, Eko, dan AM berbincang-bincang dan ngobrol tentang macam-macam, mulai dari tempat kerjaan, gosipin temen-temen, cerita masa lalu, bahkan sampai muncul ide untuk diskusi 'bagaimana menanggulangi penjebakan yang dilakukan oleh para kim*** kepada para cowok di daerah Wonosobo?'. Diskusi yang kami lakukan lumayan menarik dan kami mengambil kesimpulan bahwasannya langkah paling tepat untuk hal diatas yaitu: 'jangan sampai ketika pacaran hanya berdua tanpa ada teman, dan pengaktifan efektifitasi double couple-an ketika ngedate'.
Di sela-sela perbincangan tiba-tiba Iqbal menanyakan pada kami suatu pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit untuk kami jawab.
"Mas, malem-malem kok pakai jaket?" iqbal bertanya padaku karna mengetahui kalau aku pakai jaket double.
"Lho emangnya kenapa Iqbal? Kan dingin." jawabku.
"Lho sekarangkan musim panas, lihat aja tuh diluar, hujan kan?" jawabnya
"??? Hahahaha." aku bingung sebenarnya, tapi biar Iqbal seneng aku ketawa aja . Kemudian ia menebaki kami.
"Kalau kalian Pinter, coba jawab tebakanku. . . pintu nutup, jendela bukak, apa coba?"
"orang baru bangun tidur" jawab mat ngasal.
"Salah, yang bener itu tandanya rumah kemalingan." jawab iqbal. Kemudian mendekatiku dan merangkul memelukku dari belakang. (Ku kira dia meluk aku karna sayang padaku, eee jebulnya malah ambil uang seribuan di saku bajuku ).
"Ayo tebak lagi bal!" pinta eko.
"Emmm, ada suara trompet, trus minta tolong, apa hayow?" tanya iqbal.
"Ada mbak AM niup trompet, trus ada iqbal trus iqbal ngrebut terompet itu, trus iqbal bawa lari, trus mbak AM nangis trus jerit-jerit Minta tolong ! " jawabku setelah berfikir setengah matang (dan mengedipi Iqbal sambil memperlihatkan uang seribuan )
"Yak Bener! ". Aku pura-pura tak menyangka ternyata jawaban itu benar (#Tips: agar terlihat pinter dihadapan Mantan atau Pacar, anda harus melakukan apa saja, termasuk merelakan sedikit harta anda, itung-itung pengorbanan ).
Hahaha. Akhirnya aku Toss sama Iqbal. Tapi aku tak tau kenapa? Tangan yang iqbal pakai untuk toss bersamaku kemudian dijilatin gitu??? (apakah Ke manisanku melekat ditangannya ya? Ah gak tau lah).
Tiba saatnya waktu memaksa kami bertiga untuk pulang. Dan kami bermaksud pamitan pada Wo Tun (ibunya Iqbal).
"Tante, Kami mau pamit Pulang dulu, sudah malem." kataku berpamitan
"Nggak nanti saja pow, masih jam segini juga."
Aku melirik jam ditangan dan ternyata sudah pukul 23:14 WIB.
"Nggak bu, sudah malem kok" jawab Bagas.
"Ya sudah kalau gitu maem dulu ayo" Seperti biasanya seorang tuan rumah berbasa basi.
"Tadi sudah kok bu ditempatnya ilkhas." jawab Mat
"Tadi kan disana, kalau disini kan belum. Saya jamin pasti enak, ada ikan lele juga lho" Wo Tun meng-iming-imingi kami.
"Emmm ok, ka...aduh" Simat rupanya tergoda dengan menu spesial itu. Tapi segera saja aku injak kakinya.
"Ok kalau begitu kami pamit dulu tante" aku meneneruskan pembicaran si mat dan ku ubah maksudnya.
"Beneran, nggak mau makan disini dulu, ada Ikan Lele, Mujahir, Ayam, Kambing dan lain-lain lho pasti enak." Wo Tun masih menggoda iman kami.
"Ya udah deh, kalau itu mau tante, kami makan dulu" Eko akhirnya tak kuat menahan godaan.
Sesampainya diruang makan. Ternyata hidangannya sama saja dengan dirumahku.
"Lho Tante, ini Lele, Mujahir, kambing , ayamnya mana?" tanya simat
"Itu ada di Kolam sama di Kandang ! " Wo Tun nyengir keledai.
Kami: "??? "
(#TAMAT)
Dari arah dalam muncul sesosok kecil, berkepala plontos, mempunyai suara tawa yang membuat merinding para pendengarnya, dan berjalan mendekat ke arah kami bertiga. Ia membawa sebuah boneka besar yang setara dengan badannya. Dialah Iqbal (Muhammad Iqbal Subeno_bukan nama sebenarnya) adik kecil ponakannya si AM (mantan cinta monyetku waktu SD). Sambil terus tertawa, ia membawa boneka itu ke arahku.
"Hwaaaa, grrhwaaa !" ia bersembunyi dibalik boneka dan memajukan boneka ke arahku, ia bermaksud menakut-nakutiku.
"Hahaha, mas nggak takut, we.e.ek ." jelaslah aku nggak takut, orang yang buat nakut-nakutin aja boneka 'Beary' yang sedang memegang hati bertuliskan 'I LOVE YOU'. Siapa yang takut kalau kaya gini coba?
"Yaah, kok nggak takut sih mas?" tanya Iqbal kesal.
"Ooh Iqbal pengen mas ilkhas takut?" aku balik tanya.
Iqbal hanya tersenyum dan mengangguk. Itu tandanya aku disuruh takut. Dan aku siap (Agar terlihat baik di mata sang Mantan, kita harus pula bersikap baik pada keluarga mantan, termasuk keponakannya )
"Ya udah kalau gitu, replay ulang deh bal !" perintahku pada iqbal, dan langsung saja ia mulai menakut-nakutiku.
"Hwaaaa, grrhwaaa ! Aku Setan. ! Hwaaaa, grrhwaaa !" ia memaju mundurkan bonekanya ke mukaku.
"AAAAAAAAAA. . .aku Takuuuuut, setaaaan !" aku menjerit ketakutan. Dan tanpa kusangka jeritanku membuat panik seluruh warga terutama penghuni rumah, (sebenarnya para warga sudah mau keluar menuju sumber suaraku, tapi nggak jadi, takut ketipu kena tipu kayak disalah satu iklan camilan itu. Akhirnya mereka mengurungkan niat mereka) para penghuni rumah segera keluar keruang tamu menemuiku.
"Ada apa khas?" tanya AM penasaran. Sementara kulirik iqbal, ia tertawa cekikikan.
"Oh, nggak papa kok An, ini tadi akting buat drama sama iqbal" jawabku
"Oh, kirain ada apa?" kata Wo Tun masih sedikit panik.
"Nggak ada papa kok tante, hehe. Maaf ya, jadi ngagetin." kataku
"Oh, syukurlah kalau nggak papa." Wo Tun kembali ke ruang dalam. Sementara AM jadi menemani kami bertiga diruang tamu.
Aku, Mat, Eko, dan AM berbincang-bincang dan ngobrol tentang macam-macam, mulai dari tempat kerjaan, gosipin temen-temen, cerita masa lalu, bahkan sampai muncul ide untuk diskusi 'bagaimana menanggulangi penjebakan yang dilakukan oleh para kim*** kepada para cowok di daerah Wonosobo?'. Diskusi yang kami lakukan lumayan menarik dan kami mengambil kesimpulan bahwasannya langkah paling tepat untuk hal diatas yaitu: 'jangan sampai ketika pacaran hanya berdua tanpa ada teman, dan pengaktifan efektifitasi double couple-an ketika ngedate'.
Di sela-sela perbincangan tiba-tiba Iqbal menanyakan pada kami suatu pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit untuk kami jawab.
"Mas, malem-malem kok pakai jaket?" iqbal bertanya padaku karna mengetahui kalau aku pakai jaket double.
"Lho emangnya kenapa Iqbal? Kan dingin." jawabku.
"Lho sekarangkan musim panas, lihat aja tuh diluar, hujan kan?" jawabnya
"??? Hahahaha." aku bingung sebenarnya, tapi biar Iqbal seneng aku ketawa aja . Kemudian ia menebaki kami.
"Kalau kalian Pinter, coba jawab tebakanku. . . pintu nutup, jendela bukak, apa coba?"
"orang baru bangun tidur" jawab mat ngasal.
"Salah, yang bener itu tandanya rumah kemalingan." jawab iqbal. Kemudian mendekatiku dan merangkul memelukku dari belakang. (Ku kira dia meluk aku karna sayang padaku, eee jebulnya malah ambil uang seribuan di saku bajuku ).
"Ayo tebak lagi bal!" pinta eko.
"Emmm, ada suara trompet, trus minta tolong, apa hayow?" tanya iqbal.
"Ada mbak AM niup trompet, trus ada iqbal trus iqbal ngrebut terompet itu, trus iqbal bawa lari, trus mbak AM nangis trus jerit-jerit Minta tolong ! " jawabku setelah berfikir setengah matang (dan mengedipi Iqbal sambil memperlihatkan uang seribuan )
"Yak Bener! ". Aku pura-pura tak menyangka ternyata jawaban itu benar (#Tips: agar terlihat pinter dihadapan Mantan atau Pacar, anda harus melakukan apa saja, termasuk merelakan sedikit harta anda, itung-itung pengorbanan ).
Hahaha. Akhirnya aku Toss sama Iqbal. Tapi aku tak tau kenapa? Tangan yang iqbal pakai untuk toss bersamaku kemudian dijilatin gitu??? (apakah Ke manisanku melekat ditangannya ya? Ah gak tau lah).
Tiba saatnya waktu memaksa kami bertiga untuk pulang. Dan kami bermaksud pamitan pada Wo Tun (ibunya Iqbal).
"Tante, Kami mau pamit Pulang dulu, sudah malem." kataku berpamitan
"Nggak nanti saja pow, masih jam segini juga."
Aku melirik jam ditangan dan ternyata sudah pukul 23:14 WIB.
"Nggak bu, sudah malem kok" jawab Bagas.
"Ya sudah kalau gitu maem dulu ayo" Seperti biasanya seorang tuan rumah berbasa basi.
"Tadi sudah kok bu ditempatnya ilkhas." jawab Mat
"Tadi kan disana, kalau disini kan belum. Saya jamin pasti enak, ada ikan lele juga lho" Wo Tun meng-iming-imingi kami.
"Emmm ok, ka...aduh" Simat rupanya tergoda dengan menu spesial itu. Tapi segera saja aku injak kakinya.
"Ok kalau begitu kami pamit dulu tante" aku meneneruskan pembicaran si mat dan ku ubah maksudnya.
"Beneran, nggak mau makan disini dulu, ada Ikan Lele, Mujahir, Ayam, Kambing dan lain-lain lho pasti enak." Wo Tun masih menggoda iman kami.
"Ya udah deh, kalau itu mau tante, kami makan dulu" Eko akhirnya tak kuat menahan godaan.
Sesampainya diruang makan. Ternyata hidangannya sama saja dengan dirumahku.
"Lho Tante, ini Lele, Mujahir, kambing , ayamnya mana?" tanya simat
"Itu ada di Kolam sama di Kandang ! " Wo Tun nyengir keledai.
Kami: "??? "
(#TAMAT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar