Rabu, 26 Februari 2014

ELMA

"PACARAN?_BUKAN!_KOK "

Jalan-jalan berdua keliling pasar bersama orang yang kita cinta itu rasanya Super Istimewa Abis. Bahagianya itu kayak orang yang lagi panen, semua rasa capek, panas, haus dan letihpun tak kan terasa, yang ada hanyalah tawa, bahagia, suka, cita dan cinta. .

Setidaknya seperti itulah yang aku rasakan, ketika aku menemani si Putri Merpatiku keliling pasar induk mencari penjahit untuk meng-Rolldress-kan baju (atau apalah gak tau namanya, secara aku kan lulusan akuntansi bukan tata busana ;-)).

Waktu itu hari minggu, dan ketika sudah sampai didepan toko penjahit langganannya yang ada di daerah tempat parkiran pasar, eitss malah tutup (lagi liburan kali tukang jahitnya atau mungkin lagi nge-date sama kekasihnya hehe).

"Ya udah jangan nangis, kita cari tukang jahit yang lain aja yuk !". Kataku bermaksud empati (seolah-olah merasakan apa yang dirasakannya).

"Yeee, siapa yang mau nangis !" ia membantah kalau dia mau nangis, padahal setelah aku amati dengan seksama, ya emang nggak ada tanda-tanda mau nangis sih . (Aku bingung dan sedikit termenung, harusnya dia kan kecewa terus kayak mau nangis gitu, trus aku nenangin dia, trus dia bersandar dibahuku, trus kan so sweet, kayak di drama korea itu. . Tapi ternyata dia memang beda, dia istimewa .)

"Hei ! kok malah bengong? Ya udah ayo !". Katanya menyadarkanku dari lamunan.

"I.i.i iya ayo !" aku membentangkan tangan bersiap untuk dipeluknya (fikirku :-D).

"Eitss, ngapain kamu kaya gitu?"

"Ya katanya kamu ayo! Ya ayo!."

"Maksudnya ayo kalau mau nyari penjahit yang lain".

"Oooh, hehe maaf-maaf, kirain. . Ya udah ayo !". Ajak ku padanya.

"I.i.i iya ayo !" dia gantian membentangkan tangan bersiap untuk kupeluk. (Lho lho lho, kok malah muter-muter gini? Maaf salah skenario ini pemirsa ! . Nggak mungkin bangetlah dia genit kaya gitu. Dia kan solekhah, baik hati dan tidak sombong, rajin menabung lagi. Nggak mungkin dia seperti itu. Nggak mungkin ! ).

Akhirnya perdebatan tentang ya ayo ya ayo-nya kami selesaikan, dan kami melanjutkan perjalanan mencari penjahit yang bisa meng-rolldress-kan bajunya lagi. Ditengah perjalanan kami berpapasan dengan temannya.

"*** ! Mau kemana kamu?" sapa salah seorang temannya.

"ini mau jalan-jalan aja, sambil nyari tukang jahit". Jawabnya. Lalu mereka terlibat beberapa percakapan.

"Itu pacar kamu?" tanya temannya.

"Bukan, temen kok, emang kenapa?" jawabnya.

"Ya nggak papa si, cuman ganteng aja.". Waaah aku ganteng kata temannya hahaha asyeek . (Hust ngawur kamu khas, enggak dink pemirsa, nggak ada dialog seperti ini, temenya cuman nanya sampai dia pacarnya atau bukan gitu. ). Yaah ketauan deh kalau aku boong.. Hati nuraniku memang nggak bisa diajak kompromi huhuhu .

Kembali ke cerita, selesai ngobrol sebentar dengan temannya, kami lanjut perjalanan. Oh ya, benar kata dia kalau aku dan dia emang enggak pacaran. Meski kita udah tau perasaan masing-masing tapi dia tetap kekeuh nggak mau yang namanya Pa to the Ca and the Ran_Pacaran. Dan itu membuat dia semakin istimewa dihatiku. . Ciyee hahay.

Sampai ditempat penjahit satunya, yang ada di lantai dua pasar, eee ternyata malah nggak punya alatnya, jadi nggak bisa disana. Kami pun mencari tempat lain. (Aku bukannya kecewa, tapi malah bersorak bahagia dalam hati ketika disini nggak bisa, ya kan itu artinya aku bisa tambah lama lagi jalan-jalan bersamanya ). Kamipun pergi lagi mencari toko jahit lain, kali ini kita mau nyari diplaza lantai dua yang ada dibawah Rita.

Setelah menaiki anak tangga plaza sebelah barat, disana menjumpai tukang penjual jam langgananku, oh ya aku teringat jamku yang satu kan rusak, sekalian aja aku service-kan.

"Ma, bentar ya, aku sekalian tak mbetulin jamku dulu." (ma??? Iya aku panggil dia 'ma'. Tapi maksudku bukan ma untuk mama (kami kan nggak mamah papah-an kayak anak ABG kalau pacaran :-P), tapi ma disini untuk memanggil namanya yang memang ada inisial ma-nya ). Ia setuju dan ikut menunggu disampingku.

"Assalamu'alaikum, pak tolong service-in jam ini ya pak." kataku pada bapak tukang penjual jam (TPJ) yang berasal asli padang ini.

"Wa'alaikumsalam, wah ok ok dik, gimana kabar? Sehat? Waah sama siapa ini? Istrinya?". Jawab TPJ sekaligus menanyakan dia yang ada disampingku. Aku hanya tersenyum.

"Oh maksud saya temen deket, calon istri gitu ya? Dari mana ini? Dari rumah calon mertua?" tanya-nya bertubi-tubi. Membuatku bingung mana yang harus ku jawab dulu. .

"Iya pak, enggak kok, barusan dari perpus kemudian ini lagi nyari tukang jahit." jawabku menjelaskan.

"Waaah, cocok kok kalian, semoga kelak menjadi suami istri yang sakinah mawadah warohmah. Sudah pernah ke rumahnya?". Ia masih terus bertanya.

"Amin ya robbal'alamin, do'akan saja pak, , sudah dong pak, malah kalau kerumahnya itu sudah kayak pulang kerumah sendiri pak, nyaman banget ." jawabku, sementara kulihat dia hanya tersenyum.

Sambil menunggu jam selesai diperbaiki, kami ngobrol-ngobrol (udah jadi kebiasaan TPJ ketika sedang nyervice dia ajak ngobrol pelanggannya, mungkin ini salah satu jurus PDKT ala si TPJ ini dan ini membuat pelanggan jadi semakin dekat dengannya. Kemudian pasti selanjutnya dia tembak dan kemudian. . . Lho kayak mau pacaran aja ! . . . Maksudnya itu adalah metode promosi/penjualannya ).

The end ! Cukup sekian ceritanya. INTINYA : "SALING MENCINTAI ITU NGGAK HARUS PACARAN KOK ! Haha !"

(Oh ya tentang penjahit, nggak ada yang buka, semua tutup, mereka lagi pacaran)

(#Putri_Merpati_ku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar